A password will be e-mailed to you.

Sumber Gambar: thejakartapost.com/WiendaParwitasari

Aksi demo di Indonesia tidak selalu mempengaruhi keputusan finansial investor, tergantung skalanya. Tetapi apabila sebuah aksi demo mendapatkan liputan media baik konvensional maupun daring secara masif, kekhawatiran untuk berinvestasi meningkat. Apalagi banyak spekulasi yang ingin menjadikan aksi demo 4 November seperti kerusuhan pada Mei tahun 1998. Lantas, apa dampaknya terhadap IHSG Pekan Depan?

Meskipun sejumlah emiten mengeluarkan laporan kinerja keuangannya, IHSG bergerak datar. Namun, indeks terkoreksi dalam pada Kamis lalu (3 November 2016) sampai pada level 5,329.50 dari 5,405.45, atau mengalami penurunan sebanyak 1.41%. Hal ini disebabkan investor mengantisipasi aksi demo pada hari Jumat (4 November 2016) yang sudah diliput oleh banyak media dan terorganisir dengan rapi, untuk berunjuk rasa agar penegak hukum memproses Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) atas dugaan penistaan agama. Investor khawatir, karena aksi demo kali ini melibatkan massa masif dari penjuru daerah untuk berkumpul ke Jakarta dan menghasilkan tindakan anarkisme. Hal ini disebabkan spekulasi yang beredar adanya tokoh politik yang menunggangi aksi demo ini dan menjadikan aksi demo menyerupai kerusuhan Mei tahun 1998 untuk menggulingkan pemerintah.

Namun beberapa analis efek berpendapat bahwa demo tidak berpengaruh apapun terhadap bursa. Salah satunya, Head of Research Universal Broker, Satrio Utomo, mengatakan IHSG tidak turun semata-mata karena adanya aksi demonstrasi. Ia mengatakan bahwa secara teknikal posisi IHSG memang sudah terlalu mahal. “Menurut saya IHSG secara teknikal masih bisa turun hingga 5.128. Kalau sudah tembus 5.128 baru gawat,” katanya (Sumber: Bareksa).

Apa yang Terjadi Pada Hari Jumat?

Aksi demo berjalan dengan damai dan tertib, meskipun ada beberapa gesekan dan orasi yang meresahkan dari berbagai pihak. Tetapi beberapa pihak pendemo bertanggung jawab dengan mengurangi sampah yang berserakan, melindungi aparat dari provokator, dan berusaha untuk menjaga kondisi penyampaian aspirasi dengan tenang sampai maghrib.

Lalu bagaimana dengan IHSG? Ternyata indeks dibuka melemah karena kekhawatiran investor di hari sebelumnya. Bahkan sampai menyentuh titik terendahnya di poin 5,303. IHSG berada di zona merah dari pembukaan hingga jeda siang. Tetapi koreksi hanya berhenti sampai di situ, IHSG menguat sampai penutupan di level 5,362.66, atau naik 0.62% dibandingkan level penutupan kemarin. Aksi demo berlangsung damai dan IHSG berada di zona hijau.

Sayangnya, setelah maghrib aksi demo berkembang menjadi aksi anarkis. Sebuah gerai pasar swalayan dirusak dan dijarah. Hal ini diperparah dengan terjadinya baku hantam dengan kepolisian dan dilemparnya gas air mata untuk membubarkan kerumunan yang tidak terkendali. Suasana tidak kondusif sampai pada dini hari, presiden Joko Widodo menghimbau peserta demonstran untuk pulang ke rumah dan daerah masing-masing.

Bagaimana Prediksi Bursa Minggu Depan?

Analis Recapital Securities Liga Maradona mengatakan, investor asing lebih khawatir atas hasil pemilihan presiden Amerika Serikat daripada demo. “Apabila Hillary Clinton menang, tentunya pasar akan positif. Kalau Donald Trump menang, pasar akan terkoreksi. Perkiraan saya akan ada di kisaran 5.290–5.450 pekan depan,” ujar Liga (Sumber: Kontan).

Diyakini, sentimen yang akan menggerakkan pasar pekan depan adalah penguatan dollar AS, hasil pemilu AS dan rilis PDB kuartal tiga. Dari Learning Capital, dihimbau untuk para investor dan trader agar wait and see karena IHSG yang masih cenderung bergerak mixed.

Demikian.

%d bloggers like this: