A password will be e-mailed to you.

Tunjuk sebuah komite untuk mengerjakannya.

Kenapa begitu? Bukannya kita mengumpulkan orang-orang terbaik di bidangnya?

Betul. Tapi ini bukan masalah keahlian dalam bekerja. Namun masalah akuntabilitas dan kepemimpinan.

Ketika dibentuk sebuah tim untuk bekerja, mereka akan saling berbagi kemampuan dan tugas. Sayangnya, mereka pun juga berbagi tanggung jawab.

Tapi bukankah itu bagus? Mereka bersinergi untuk mencapai satu tujuan?

Secara teori, betul. Idealnya, iya. Namun pada prakteknya, ini adalah resep menuju kekacauan dan disfungsional.

Berbagi tugas berbeda dengan berbagi tanggung jawab. Berbagi tugas, menunjukkan setiap orang paham akan apa yang dia kerjakan dan apa ekspektasi yang diharapkan dalam pekerjaannya.

Namun ketika berbagi tanggung jawab dilakukan, berarti tidak ada satupun yang memegang akuntabilitas penuh dalam proyek ini.

Sehingga tidak ada yang bertugas untuk memimpin, memonitor, memberikan motivasi, dan menjadikan 1 tim ini sebagai kesatuan dalam proyek ini.

Setiap orang akan merasa bahwa semua orang bertanggung jawab pada proyek ini. Sehingga komitmen setiap individual akan kurang, bukan untuk mengerjakan tugasnya masing-masing, namun untuk mencapai 1 tujuan secara kolektif.

Tetapi ketika akuntabilitas berada dalam 1 orang dan bukan 1 tim, maka kemungkinan orang tersebut untuk mensukseskan proyeknya akan lebih besar daripada akuntabilitas yang terbagi merata.

Mengapa Pembentukan Komite Hadir di Tengah Kita?

Karena komite membuat kita nyaman. Lebih nyaman mana? Memiliki beban ditanggung sendiri atau dipikul ramai-ramai?

Sederhananya begitu.

Apalagi ditambah pemikiran di atas, bahwa kumpulan orang-orang hebat di bidangnya (yang relevan) sama dengan kesuksesan, itu pola pikir kuno.

Bayangkan, kita duduk di sebuah ruangan tanpa 1 orang yang ditunjuk jadi pemimpin rapat. Kita akan brainstorming dan berharap orang lain akan meringkas hasil pertemuan tersebut dan menjadikannya sebagai nilai tambah.

Tapi masalahnya, lagi-lagi setiap orang berpikir hal yang sama.

Bagaimana Kita Mencari Orang yang Tepat?

Apabila kamu adalah pemilik dari proyek tersebut, mulailah dengan menulis daftar ekspektasi dari seorang pemimpin yang ideal.

Apakah untuk mengerjakan proyek ini, dibutuhkan orang yang fleksibel atau rigid? Yang mampu memaksimalkan potensi timnya atau yang tahu segalanya?

Fokus ke beberapa ekspektasi, janganlah kita tenggelam mencari manusia sempurna.

Setelah sudah dapat daftar ekspektasinya, fokus kepada attitude-nya. Seperti pepatah bilang: hire for attitude, train for skills.

Kita tidak mau proyek ini gagal di tangan orang yang berkeahlian mumpuni, namun memiliki emosi yang tidak stabil.

Bagaimana Kita Membekali Orang Pilihan Kita?

Setelah sudah mendapatkan orang yang cocok, ada 3 hal yang dapat kita berikan kepadanya:

1. Berikan visi yang jelas

Pastikan orang ini paham apa yang kita butuhkan dan apa tujuan dari proyek ini. Tidak perlu mendikte bagaimana cara mencapainya, biarkan dia yang menentukan.

2. Berikan tenggat waktu (deadline)

Kalau tidak, maka dia tidak akan menanggapi serius pekerjaannya.

3. Motivasi

Berikanlah alasan mengapa dia yang terpilih untuk menangani ini dan bukan orang lain.

Demikian. Semoga dengan ini, kita terhindar dari pembentukan komite yang membuang waktu dan energi. Sama halnya dengan melakukan meeting yang tidak berguna.

 

Sumber gambar utama: Pexels

%d bloggers like this: