A password will be e-mailed to you.

Berita Donald Trump terpilih menjadi presiden AS ke-45 mencengangkan dunia, bahkan dampaknya sampai merontokkan pasar modal dan melemahkan rupiah kita. Mengapa hal ini dapat terjadi dan bagaimana cara kita menyikapinya?

Sampai-sampai, Donald Trump menjadi presiden AS masuk dalam daftar 10 risiko tertinggi yang akan memiliki pengaruh negatif terhadap ekonomi, politik, dan keamanan dunia (sumber: BBC). Menduduki di peringkat ke-6, Presiden terpilih Donald Trump lebih berisiko daripada peningkatan ancaman terorisme dan hengkangnya Inggris dari Uni Eropa. Berkali-kali Trump mengeluarkan pernyataan keras terhadap Meksiko dan Cina yang dapat berlanjut ke perang dagang, yang akan meningkatkan volatilitas dari arus impor dan ekspor dunia.

Awal Mula Aksi dan Reaksi

Merosotnya IHSG hingga 4 % hari ini terjadi akibat penjualan obligasi global menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Trump berjanji untuk mendorong belanja infrastuktur, namun di sisi lain berjanji memotong pajak penghasilan. Ini berarti Trump membutuhkan dana yang banyak sehingga penyerapan dana dari masyarakat akan lebih baik. Bagaimana caranya? Yaitu dengan menerbitkan surat obligasi, agar masyarakat dapat membeli surat obligasi dan dana masyarakat tersebut akan diolah oleh pemerintah.

Masih belum paham…

Oke, sekali lagi.

Untuk berbelanja, Trump membuthkan dana. Maka dari itu, Trump akan menerbitkan dan menjual lebih banyak surat obligasi kepada masyarakat. Sehingga masyarakat akan mendapatkan obligasi dan pemerintahan Trump akan mendapatkan dana masyarakat untuk berbelanja infrastuktur.

Namun seperti Hukum Ke-3 Newton, di dalam setiap aksi, maka muncul reaksi berlawanan yang setimpal. Karena investor berasumsi bahwa pemerintahan Trump akan menerbitkan banyak obligasi, maka hal tersebut akan mendorong harga obligasi jatuh. Mengapa? Karena pasokan berbanding terbalik dengan harga. Kalau pasokan barang tersebut meningkat, maka harganya akan jatuh. Karena logikanya, setiap orang akan dengan mudah mendapatkan barang tersebut. Dan untuk memastikan barang dagangannya habis, maka penjual menurunkan harganya.

Sebaliknya, kalau pasokannya minim, maka harga akan meningkat. Karena akan semakin sedikit orang yang memiliki barang tersebut dan pedagang memanfaatkan situasi ini dengan menaikkan harganya.

Kembali ke investor obligasi AS, karena mereka memiliki asumsi bahwa pasokan obligasi akan meningkat, maka mereka menjual obligasi mereka, sebelum obligasi mereka memiliki nilai jual yang rendah. Aksi penjualan ini dinamakan dengan cut loss. Karena kalau mereka diamkan saja obligasi mereka, khawatir mereka akan mendapatkan kerugian besar dengan menjual obligasi yang memiliki harga yang lebih rendah.

Secara historis, korelasi pasar obligasi Indonesia dan AS adalah berbanding lurus. Hubungan inilah yang menyebabkan terjadinya koreksi di pasar obligasi Indonesia (sumber: Bareksa). Layaknya efek domino, pelemahan pasar Obligasi juga memicu pelemahan rupiah. Tidak cukup sampai di situ saja, volatilitas yang terjadi di nilai tukar rupiah, memicu penjualan saham oleh investor Asing.

Apa lagi selanjutnya?

Kekuatan ekonomi dan keuangan kita secara fundamental kuat. Koreksi yang terjadi pada beberapa belakangan hari ini hanyalah koreksi teknikal saja.  Meskipun memang nilai tukar rupiah menyentuh angka 13,873 itu konyol. Tapi rupiah kita kembali ditutup menguat pada level 13,375 (sumber: Kontan).

Masih ada kemungkinan penyusutan IHSG dalam minggu ini, namun terbatas.

Mandiri Sekuritas dalam risetnya menjelaskan bahwa dalam jangka pendek akan terjadi ketidakpastian. Ketidakpastian ini juga berarti volatilitas, sehingga kebijakan moneter mungkin akan berhenti.

“Sampai Trump menduduki kantornya pada Januari, mengumumkan anggota kabinet dan menyusun kebijakannya, menurut kami volatilitas pasar keuangan akan terjadi,” tulis analis Mandiri Sekuritas dalam riset yang sudah dibagikan kepada nasabah. Karena ada potensi volatilitas, Bank Indonesia dapat menahan kebijakan suku bunga tidak berubah dalam rapat dewan gubernur pada pekan depan.

Kebijakan suku bunga inilah yang akan mempengaruhi seberapa banyak uang yang beredar di masyarakat. Kalau suka bunga meningkat, maka masyarakat akan lebih memilih untuk menabung di bank daripada berinvestasi atau mengembangkan bisnisnya. Ini dinamakan kebijakan kontraktif. Begitu juga sebaliknya, kalau suku bunga menurun, maka orang-orang lebih memilih menarik uangnya dari bank untuk berinvestasi dan berbisnis, sehingga menggairahkan ekonomi.

Namun, riset CIMB menilai bahwa perdagangan Indonesia tidak akan terpengaruh banyak. Tidak seperti negara di Asia Utara, ekspor Indonesia ke AS didominasi produk manufaktur dasar, sementara impor didominasi barang modal dan pangan. Ingat, kebijakan Trump hanya mempengaruhi barang-barang jadi komersil yang diolah dalam negeri mereka. Contohnya produk Apple.

“Kami yakin Indonesia tidak akan masuk daftar teratas untuk defisit perdagangan dengan AS,” tulis riset CIMB yang sudah dibagikan kepada nasabah.

Mandiri Sekuritas juga menyatakan hal serupa dan menghitung bahwa setiap peningkatan 1 persen ekonomi AS akan berkontribusi hanya 0,05 persentase poin kepada pertumbuhan Indonesia. Begitu juga sebaliknya.

“Untungnya, pertumbuhan PDB Indonesia masih berorientasi pada ekonomi domestik,” tulis riset Mandiri Sekuritas.

Apa yang dapat kita lakukan?

Banyak kalangan menilai penurunan tajam IHSG hanya bersifat sementara. Apalagi, secara year to date (maksudnya dari penutupan tahun 2015), IHSG masih bertumbuh 15,16% dari posisi 4.593,01 pada penutupan perdagangan akhir tahun 2015 menjadi 5.289,32 pada penutupan sesi pertama Jumat, 11 November 2016 (sumber: Bareksa)

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida pun angkat bicara. Menurutnya, gejolak yang terjadi pada pasar saham Indonesia bersifat sementara. Bahkan, dia berpendapat, koreksi yang terjadi bisa jadi momentum yang bisa dimanfaatkan oleh investor domestik untuk mengoleksi saham dengan fundamental yang baik.

Sejumlah saham yang bergerak di sektor komoditas seperti logam, batu bara dan crude palm oil (CPO) menjadi pilihan yang disarankan oleh sejumlah analis.

Menurut analis Citi dalam riset yang diberikan kepada nasabahnya, emiten-emiten terkait komoditas, seperti sektor tambang dan perkebunan ini  dinilai mendapat untung dari penguatan dolar AS karena komoditas yang mereka jual berorientasi ekspor. Harga acuan global untuk batu bara masih dipengaruhi oleh sistem perbankan Cina yang diperkirakan masih akan mengintervensi perusahaan yang menggunakan bahan bakar batu bara untuk menjaga likuiditas perbankan mereka.

Untuk itu, Analis Citi merekomendasikan beli sejumlah saham seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO) dengan target harga Rp1.910, PT Indo Tambang Raya Megah Tbk (ITMG) target harga Rp26.000, PT Tambang Batu Bara Bukit Asam Tbk (PTBA) ditargetkan dapat mencapai Rp18.100.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Tito Sulistio, mengungkapkan ada hal unik dalam turunnya IHSG pada perdagangan Jumat dan hari ini. Tito mengungkapkan yang unik di transaksi bursa Indonesia karena jumlah investor lokal mencapai 65% sedangkan asing hanya 35%. Namun, sejauh ini ia mengatakan transaksi di BEI malah didominasi oleh asing hingga 65% sedangkan investor domestik hanya 35%.

Ia mengatakan bahwa 10 saham dengan transaksi teratas seperti HMSP, TLKM, BBCA dan UNVR kebanyakan dijual oleh investor yang berasal dari institusi dan juga. Sedangkan investor individu yang melakukan pembelian terbanyak.

“Artinya investor ritel kita masih confident,” ujarnya di Jakarta, Senin 14 November 2016.

Untuk rekapitulasinya, pada minggu ini mulailah mengkoleksi beberapa saham dengan fundamental baik. Trump effect tidak akan mempengaruhi secara negatif kinerja keuangan Indonesia dalam jangka panjang.

Demikian.

Sumber Gambar Utama: Pixabay

%d bloggers like this: