A password will be e-mailed to you.

Go-jek dengan Go-pay baru saja melakukan transformasi yang akan mengganggu lansekap Fintech

Kita sudah sangat familiar dengan konsep e-wallet. Sederhananya, ini seperti kartu debit namun dalam bentuk aplikasi dan dengan batas transaksi yang jauh lebih sedikit.

Seperti namanya, kamu dapat menyimpan sebagian uang anda dalam dompet daring dan menggunakannya untuk membayar beberapa hal.

Itu yang menyebalkan. Hanya dapat digunakan untuk beberapa hal, belum fleksibel.

Angka yang tersimpan dalam e-wallehanya dapat membeli voucher pulsa pra-bayar, membeli token listrik, dan transaksi dengan merchant-merchant yang sudah bekerja sama dengan dompet daring kamu.

Enaknya, kamu juga dapat memindahkan uang dalam dompet digital kamu ke sesama pengguna dompet yang sama. Kalau butuh uang tunai, kamu juga dapat menariknya dari ATM melalui e-wallet.

Tapi sedihnya, ada beberapa dompet digital yang tidak dapat memindahkan uang kamu kembali ke rekening dan terpaksa mengendap di sana.

Gangguan Go-pay

Learning Capital - Go-pay & Go-jek

Kini ada fitur Transfer dan Withdraw

Seperti yang dilansir oleh situs Tech in Asia, Go-jek menambahkan fitur transfer ke sesama pengguna dan withdraw kalau kamu mau memindahkan uang yang sudah dideposit di Go-pay, kembali ke rekening kamu.

Learning Capital - Go-pay

Dapat transfer uang ke sesama pengguna Go-pay

Di sinilah yang membuat Go-pay menjadi game changer dan kalau boleh saya katakan, mengganggu pemain e-wallet lainnya.

Learning Capital - Go-pay

Dapat memilih rekening bank tujuan

 

Go-pay sudah berubah menjadi e-wallet sepenuhnya (atau setidaknya memiliki fitur dasar yang dimiliki oleh dompet daring lainnya).

Kalau begitu, apa yang membedakan Go-pay dengan e-wallet lainnya dong?

Kemampuannya untuk membayar berbagai kebutuhan kita.

Cara perbankan dan pemain e-wallet dalam mengakuisisi penggunanya, yaitu dengan memberi diskon untuk berbelanja. Misalnya seperti Telkomsel t-cash untuk KFC, Mandiri e-cash untuk Chatime, atau CIMB Niaga Rekening Ponsel untuk restoran tertentu.

Melihat penawaran potongan harga ini, lantas calon pengguna mengunduh aplikasi tersebut, memindahkan sebagai dana (dengan jumlah yang pas untuk membayar keperluan tersebut), dan membayarnya.

Sama dengan Go-jek. Go-jek menawarkan potongan harga untuk setiap layanan Go-jek apabila kamu membayar dengan Go-pay.

Selanjutnyalah yang membuat cerita dari kedua e-wallet ini bernasib berbeda.

Kenyamanan (dan kesetiaan) dalam Bertransaksi

Ketika pengguna sudah membayar, maka apa yang terjadi?

Aplikasi e-wallet tersebut akan disimpan dengan harapan mereka akan melihat diskon-diskon dari masing-masing produk daring tersebut.

Seiring berjalannya dengan waktu, ternyata mereka menemukan bahwa mereka semakin jarang menggunakan dompet daring mereka untuk bertransaksi.

Karena mereka tidak selalu ke merchant-merchant yang mereka kunjungi sebelumnya dan dompet daring ini tidak dapat digunakan untuk bertransaksi di merchant-merchant yang lain.

Lambat laun, aplikasi ini pun kemudian ditinggalkan.

Kasus berbeda terjadi pada Go-pay. Karena produk ini sudah terintegrasi dengan Go-jek, kecil kemungkinannya mereka akan uninstall Go-jek. Wong mereka unduh Go-jek bukan karena Go-pay kok, namun karena untuk menghindari macet dan menghemat waktu.

Jadi yang mereka lakukan adalah mereka akan membiarkan uangnya mengendap untuk keperluan lain. Seperti berbelanja kebutuhan rumah tangga via Go-mart atau memesan makanan via Go-food, yang mana promo potongan harga dari go-pay tidak terbatas pada merchant yang bekerja sama.

Learning Capital - Go-pay (1)

Go-pay memberikan pilihanyang lebih banyak

Sehingga frekuensi penggunaan Go-pay akan berlipat ganda dibandingkan produk sejenis dan kalau pemain e-wallet lainnya tidak merespon ini dengan tepat, khawatir pengguna dompet daring di kota metropolitan akan terlena dengan adanya dompet daring dari Go-jek.

Demikian.

Sumber gambar utama: NCI Ventures

%d bloggers like this: