A password will be e-mailed to you.

Selalu ada kekurangan dari produk fintech lokal kita dan IPOTPAY mencoba untuk menambal lubang tersebut.

Oke, biasanya kalau kita mau membayar tagihan caranya seperti apa?

Sejauh yang saya ingat, bapak saya selalu setiap bulan pergi ke ATM terdekat. Ini cukup menyebalkan karena kita harus mempersiapkan diri untuk pergi ke luar, menghentikan aktivitas kita, dan memfokuskan diri untuk menjalankan kewajiban.

Kemudian, teknologi semakin berkembang dan kemudian internet banking menyapa kita semua. Akhirnya internet dapat lebih berguna daripada bergunjing di media sosial (ini sarkas, tentulah saya tahu bahwa internet sudah menolong mahasiswa dan mahasiswi untuk lulus tepat waktu).

Cara ini lebih unggul. Karena kita tidak perlu keluar rumah dan meminimalisir risiko untuk bertemu dengan orang yang kita hindari di perjalanan. Hemat waktu dan hemat biaya.

Tetapi lambat laun, mobilitas yang tinggi membuat orang semakin sulit untuk mengakses komputer atau laptop.

Datanglah mobile banking sebagai jawaban dari kegusaran eksekutif muda dan ibu-ibu sosialita. Selamat tinggal desktop. Saya saat ini dapat bertransaksi dan melihat sisa uang saya melalui telepon genggam dan swafoto (selfie, duh) setelahnya.

Era Cashless

Sebetulnya transaksi digital itu adalah praktek yang sudah lama. BCA dengan Flazz sudah bersusah payah meningkatkan konsumsi produknya dengan menawarkan potongan harga ketika berbelanja dan membayar parkir.

Tetapi barulah adopsi besar-besaran itu terjadi ketika Jasamarga (perusahaan pemilik jalan bebas hambatan yang sering kamu gunakan) menawarkan gerbang tol bebas hambatan (jalan bebas hambatan ver.02) apabila kamu membayar dengan E-toll card dari bank Mandiri.

Kalau kita hubungkan tren adopsi E-toll card dengan adopsi Go-jek, kita dapat memiliki hipotesis bahwa (setidaknya) orang Jakarta benci akan kemacetan dan membuang waktu mereka di perjalanan. Kamu punya ide startup untuk menangkal masalah itu? Selamat! Kamu mungkin dapat menjadi the next unicorn.

Masyarakat mulai teredukasi dengan adanya konsep cashless. Institusi keuangan dan startup pun mulai berbondong mengenalkan produk E-wallet. Ini dompet, tapi digital.

Tentu saja, terima kasih sudah menerjemahkan

Secara sederhana, ini seperti versi rekening bank yang lebih kecil, ringan, dan memiliki kemampuan terbatas. Produk ini bisa menyimpan uang. Namun BI mengeluarkan peraturan bahwa maksimal uang yang diendapkan di E-wallet adalah sebesar 5 juta.

Ini juga bisa bertransaksi. Tapi hanya ke beberapa merchant tertentu, membeli pulsa, dan memindahkan sejumlah uang ke sesama rekening E-wallet (atau bank penerbitnya, terkadang).

Tapi selalu, produk-produk penunjang cashless ini selalu memiliki kekurangan.

Kelompok Hibrida

Datanglah kemudian produk-produk yang menggabungkan antara kenyamanan bertransaksi lewat telepon genggam, tapi tidak perlu mengeluarkan biaya administrasi.

Saat ini menurut saya, produk fintech yang memiliki fitur transaksi mumpuni adalah Jenius, Go-pay, dan terakhir adalah IPOTPAY.

Secara singkat, Jenius dari BTPN memiliki kemampuan seperti rekening bank, namun dengan kekuatan E-wallet. Tidak ada biaya administrasi dan tidak perlu ke bank untuk membuatnya.

Go-pay dari Go-jek, ini sebetulnya cukup di luar dugaan. Dia bisa transfer ke sesama pengguna, dapat memindahkan saldo tersebut ke rekening bank (sehingga dapat kita tarik uangnya), dan merchant pembayarannya paling luas.

IPOTPAY adalah pendatang baru. Diluncurkan pada Senin, 5 Juni 2017. Mencoba untuk menghilangkan kekurangan produk fintech pendahulunya dengan memaksimalkan imbal hasil yang didapatkan oleh penggunanya, yaitu menginvestasikan saldo yang mengendap di reksa dana pasar uang.

Demikian, nantikan bagian kedua yang akan mengulas lebih dalam review penggunaan IPOTPAY.

%d bloggers like this: