A password will be e-mailed to you.

Fenomena windows dressing selalu membuat performa IHSG naik pada akhir tahun dalam 10 tahun terakhir ini. Apakah windows dressing itu dan bagaimana kita dapat menjual saham kita di saat yang tepat untuk mengeruk keuntungan?

Menurut Investopedia, Windows dressing adalah sebuah strategi yang digunakan oleh institusi keuangan pengelola dana untuk meningkatkan performa laporan kelolaan dana mereka, sebelum laporan itu diberikan kepada nasabah atau pemangku kepentingan (stakeholder) lainnya.

Seperti sebuah laporan pertanggungjawaban, pengelola dana ini wajib memberikan laporan performa pengelolaan dana mereka. Agar pemangku kepentingan yang berhak menerima laporan tersebut dapat menilai apakah sang pengelola dana sudah berhasil memberikan keuntungan atau tidak.

Institusi keuangan pengelola dana yang aktif berkontribusi ke fenomena windows dressing itu ada dua (atau setidaknya yang saya ketahui). Kedua badan ini adalah Manajer Investasi (MI) yang menerbitkan reksa dana dan perusahaan asuransi yang menerbitkan unit link. Kesamaannya adalah, mereka adalah manajer portfolio (atau sederhananya pengelola sejumlah dana) yang secara aktif menjual-belikan saham dan obligasi di pasar modal dan wajib memberikan laporan performa pengelolaan dana mereka.

Memperjelas maksud Windows Dressing

Cara manajer portfolio mengaplikasikan strategi ini adalah dengan menjual saham yang berkinerja buruk dan membeli saham yang berkinerja bagus.

Loh? Bukannya memang itu pekerjaan manajer portfolio? Apa bedanya?

Betul. Namun yang membedakan adalah, biasanya aksi jual beli saham ini dilakukan pada akhir November sampai pertengahan Desember. Keputusan investasi juga kerap kali tidak sesuai dengan strategi dan risiko awal dari portfolio tersebut.

Misalnya, ada suatu komposisi portfolio berisi obligasi dan saham, yang memiliki tingkat risiko menengah. Pada Kuartal pertama sampai dengan kuartal ketiga, portfolio ini membukukan nilai yang bagus. Namun menjelang akhir kuartal keempat, performa portfolio ini kurang bagus karena nilai jual obligasi yang menurun karena faktor eksternal.

Sehingga agar nilai laporannya tetap bagus, portfolio manajer menjual obligasi-obligasi ini dan membeli saham-saham blue chip (saham yang memiliki performa laporan keuangan yang kuat) yang memiliki nilai jual yang bagus untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek.

Namun kalau kita melihat lagi dari gaya portfolio-nya, seharusnya portfolio ini tidak dapat memiliki komposisi saham semua. Harus dibarengi dengan obligasi. Karena kalau komposisinya saham semua, maka tingkat risikonya akan meningkat.

Emm… ada contoh lain tidak? Mungkin yang lebih mudah dipahami gitu?

Baiklah, ambil contoh sebuah perusahaan yang memiliki sebuah produk sepatu (portfolio).

Perusahaan ini memiliki penjualan yang bagus. Namun ketika mulai tiba di penghujung akhir tahun, penjualannya menjadi kurang bagus. Dikarenakan ada sepatu-sepatu (contoh obligasi yang menurun harga jualnya) yang sudah ketinggalan zaman. Sehingga tidak menarik lagi di mata konsumen.

Namun agar laporan keuangannya pada akhir tahun tetap bagus, perusahaan tersebut menjual sepatu-sepatu lama dengan harga diskon. Kemudian menyewa mesin baru untuk menggenjot produksi sepatu baru yang sesuai dengan tren masa kini (saham blue chip), agar keuntungannya meningkat.

Tapi peningkatan keuntungan hanya bersifat sementara saja.Karena kalau kita menyewa mesin untuk jangka panjang, maka biaya produksi akan menggelembung dan akan menggerus profit. Kira-kira seperti itulah perbandingannya.

Windows Dressing pada Tahun 2016

Dari contoh di atas, dapat diketahui bahwa windows dressing adalah solusi jangka pendek. Sehingga, fenomena ini memang tidak betahan lama.

Semenjak melantai di bursa efek dari tahun 2011, saya melihat windows dressing akan bertahan selama bulan Desember. Sehingga sebaiknya saham-saham dilepas pada minggu terakhir Desember atau minggu awal Januari. Namun, terkadang penguatan ini akan dilanjutkan oleh january effect (yang mana akan dijelaskan di artikel lain).

Tetapi, kita akan melihat IHSG dapat diangkat oleh windows dressing namun hanya terbatas, karena faktors eksternal yang belum pasti.

Alasannya, investor tengah memperhatikan rencana kenaikan tingkat suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS) dan program presiden AS terpilih Donald Trump. Imbasnya, investor asing terus melakukan posisi jual saham.

“Dana asing terus keluar, kalaupun ada window dressing tidak terlalu besar dampaknya, karena perhatian orang terus bergeser ke Januari melihat programnya Donald Trump,” jelas kepala Riset PT MNC Securities Edwin Sebayang (sumber: Liputan 6)

Mungkin kita tetap dapat meraih keuntungan, namun tidak secara bombastis. Tetap berhati-hati dalam menjual saham Anda. Demikian.

sumber gambar utama: Pexels

%d bloggers like this: