A password will be e-mailed to you.

Awal tahun tidak jarang digunakan sebagai momentum untuk berbenah. Inilah berita-berita pasar modal yang layak Kamu perhitungkan di bulan Januari ini.

Kita akan membaca tentang penjelasan Efek Januari, Auto-rejection dan dampaknya, dan lonjakan saham BCIP yang mencapai lebih dari 100% dalam kurun waktu hanya 3 hari.

Setelahnya, kita akan mengetahui alasan pemutusan kerjasama pemerintah dengan bank terbesar di Amerika Serikat, JP Morgan.

Efek Januari

Adalah sebuah fenomena di mana harga-harga saham yang memiliki kapitalisasi pasar kecil, mengalami peningkatan. Kapitalisasi pasar adalah total nilai seluruh saham yang beredar dari sebuah perusahaan.

Secara sederhana, jumlah kapitalisasi pasar dari sebuah perusahaan adalah harga yang seseorang harus keluarkan apabila mau membeli perusahaan tersebut.

Meski belum ada pembagian kelas saham berdasarkan kapitalisasi pasar yang baku di Indonesia, dapat diasumsikan bahwa kapitalisasi pasar kecil adalah perusahaan yang bernilai kurang dari 1 Triliun.

Mengingat bahwa di Indonesia ada perusahaan yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar 460 Triliun (Sumber: Bisnis).

Kalau ditulis, 460 Triliun adalah seperti ini: 460,000,000,000,000.

Cukup untuk modal menikah…

Mengapa Efek Januari dapat terjadi? Tidak ada yang tahu secara pasti. Beberapa mengemukakan bahwa ini berhubungan dengan psikologi dari investor yang berpendapat bahwa memulai investasi di tahun baru adalah sesuatu yang baik.

Namun sepertinya karena Trump Effect dan aksi windows dressing yang hanya berlangsung selama 3 hari pada tahun lalu, fenomena ini kecil kemungkinan akan terjadi pada Januari 2017 ini.

Lonjakan Saham BCIP

Namun saham BCIP mencatat kenaikan sebesar 102.78% hanya dalam waktu 3 hari (Sumber: Bareksa). Apakah mungkin ini juga disebabkan oleh Efek Januari?

Tidak terlalu berhubungan, karena fenomena Efek Januari seharusnya secara kolektif mengangkat sebagian besar saham-saham. Bukannya satu atau dua saham saja.

Tetapi mungkin saja kenaikan yang dialami oleh BCIP akan terjadi dalam waktu yang relatif lebih singkat apabila tidak ada auto-rejection yang diatur oleh BEI.

Regulasi Auto-rejection dari Bursa Efek Indonesia

Auto-rejection adalah sebuah mekanisme dari BEI untuk menjaga stabilitas pasar modal dengan membatasi kenaikan dan penurunan harga saham.

Cara membatasinya menggunakan dua cara, yaitu dilihat dari sisi harga dan dari sisi volume transaksi.

Kalau dari harga misalnya, BEI secara otomatis akan menolak transaksi apabila harga saham sudah meningkat atau menurun lebih dari 35%.

Kalau dari volume misalnya, BEI secara otomatis akan memberhentikan transaksi apabila volume penawaran atau permintaan melebihi 50,000 lot atau lebih dari 5% dari seluruh saham yang beredar di pasar (tergantung mana yang lebih kecil).

Pada Juni tahun 2015, IHSG menyentuh angka terendahnya sampai ke level 4,033 (Sumber: Okezone). Kemudian BEI memberlakukan auto-rejection asimetris untuk menyelamatkan pasar.

Mengapa asimetris? Karena auto-rejection untuk peningkatan harga saham dan penurunan sahamnya berbeda. Peningkatan harga saham dibatasi sebanyak 35%, namun hanya 10% untuk penurunan.

Sekarang BEI percaya diri untuk mengembalikan regulasi auto-rejection menjadi simetris. Baik peningkatan dan penurunan harga saham dibatasi sebesar 35% dan mulai berlaku dari 1 September 2016.

Karena sekarang penurunan harga saham dapat lebih dalam daripada sebelumnya, ada beberapa saham kapitalisasi pasar kecil yang anjlok (Sumber: Bareksa)

Implementasi auto-rejection simetris ikut berimbas pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan hari ini, posisi indeks berada pada level 5.275,97 atau turun 20,74 poin (0,39 persen).

JP Morgan vs Pemerintah Indonesia

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan memutuskan semua hubungan kemitraan dengan JP Morgan Chase Bank NA (Sumber: Katadata)

Alasannya, riset yang dibuat bank asal Amerika Serikat (AS) tersebut dianggap mengganggu stabilitas sistem keuangan nasional. Setahun sebelumnya, riset JP Morgan juga pernah memantik amarah pemerintah.

Alhasil, JP Morgan tidak boleh lagi menerima setoran penerimaan negara Indonesia dari siapapun.

Pada 13 November lalu, JP Morgan memang membuat riset mengenai kondisi pasar keuangan di Indonesia pasca terpilihnya Donald trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS).

Bersandarkan kepada riset tersebut, JP Morgan merekomendasikan pengaturan ulang alokasi portofolio para investor. Sebab, JP Morgan memangkas dua level rekomendasi Indonesia dari “overweight” menjadi “underweight”.

Underweight dalam konteks ini secara gamblang dapat diterjemahkan bahwa investasi di Indonesia akan memiliki kecenderungan menghasilkan performa investasi yang kurang memuaskan.

Namun, juru bicara JP Morgan mengatakan bahwa mereka akan tetap melanjutkan bisnisnya di Indonesia seperti biasa.

“Dampaknya ke klien kita tidak begitu besar, dan kita tetap bekerja sama dengan Kementerian Keuangan,” ujarnya dalam surat elektronik kepada Reuters (Sumber: Liputan6)

Demikian.

Sumber Gambar Utama: Pexels

%d bloggers like this: